"Gue heran, kenapa ya gue gak nafsu makan kalau di kosan?" tanyaku kepada Kuning yang sedang makan nasi dengan ayam balado. Entah sudah berapa ayam yang ia santap hari ini. "Ah, itu mah karena lo gak punya duit aja kali? Kalau punya duit semua makanan juga dibeli sama lo," jawabnya sambil menyeringai, ada cabai terselip diantara giginya yang rapi. Ah, benar juga si Kuning. Aku tidak menyangkal pertanyaan sekaligus pernyataan Kuning, lalu Kuning bertanya, "Eh, Mer, emang lo kalau di rumah makan berapa kali? Itu badan tambun bener," tanya Kuning sekaligus meledek aku. Si Kuning ini memang kalau bicara sangat jujur. Mungkin faktor lingkungan asalnya, pikirku. "Lima kali minimal, hahaha," tawaku renyah sambil bersiap untuk mendengar tanggapan Kuning yang jujur berikutnya. "Wah, gila lo ya. Banyak banget! Kok bisa, sih, makan banyak banget gitu?" tanya Kuning.
Lalu, pikiranku melayang...
Iya, aku memang sering sekali makan jika di rumah. Keluargaku bukanlah keluarga kaya, tapi kami tidak pernah khawatir kalau soal makanan. Entah dari mana makanan selalu ada di atas meja makan. Persediaan makanan pun tidak pernah habis di dalam kulkas. Kalau dipikir-pikir, mungkin ini juga karena orang tuaku punya usaha di bidang kuliner. Mulai dari minuman hingga makanan yang kami produksi sendiri. Tapi, bukan itu yang jadi persoalan. Selama ini aku memang tidak mempersoalkan kuantitas makanku atau badanku yang tambun ini. Orientasiku hanya untuk keluarga.
Ah, keluarga, ya. Aku jadi ingat, sebenarnya usaha keluargaku tidak begitu mulus. Itulah mengapa keluarga kami memiliki beberapa jenis usaha di bidang kuliner dengan harapan satu diantaranya akan sukses atau paling tidak bisa membiayai kuliahku. Karena dagangan keluarga kami tidak habis, saat aku di kos pun, Ibu sering bercerita lewat telepon dengan nada yang sedih. Bahkan, tak jarang Ibu pulang dengan wajah muram ketika aku sedang di rumah.
Aku tak tega melihat Ibu sedih. Jadi, ketika dagangan Ibu dibawa ke rumah, aku santap makanan tersebut dengan wajah gembira sambal berkata, "Ih, Bu. Makanan bikinan Ibu paling enak, deh. Merah jadi pengen makan terus sampai habis." Ibu pun tersenyum ketika aku sudah membuka senjata tumpul yang bisa bicara sambil mengunyah amunisi. Aku jadi sadar akan sesuatu.
"Bisa, dong! Mau tau gak kenapa gue bisa makan banyak?" tanyaku menggoda Kuning. "Emangnya kenapa?" Kuning balik bertanya padaku.
"Karena cinta." Jawabku sambil membayangkan wajah Ibuku. Kuning pun jadi bingung.
Lalu, pikiranku melayang...
Iya, aku memang sering sekali makan jika di rumah. Keluargaku bukanlah keluarga kaya, tapi kami tidak pernah khawatir kalau soal makanan. Entah dari mana makanan selalu ada di atas meja makan. Persediaan makanan pun tidak pernah habis di dalam kulkas. Kalau dipikir-pikir, mungkin ini juga karena orang tuaku punya usaha di bidang kuliner. Mulai dari minuman hingga makanan yang kami produksi sendiri. Tapi, bukan itu yang jadi persoalan. Selama ini aku memang tidak mempersoalkan kuantitas makanku atau badanku yang tambun ini. Orientasiku hanya untuk keluarga.
Ah, keluarga, ya. Aku jadi ingat, sebenarnya usaha keluargaku tidak begitu mulus. Itulah mengapa keluarga kami memiliki beberapa jenis usaha di bidang kuliner dengan harapan satu diantaranya akan sukses atau paling tidak bisa membiayai kuliahku. Karena dagangan keluarga kami tidak habis, saat aku di kos pun, Ibu sering bercerita lewat telepon dengan nada yang sedih. Bahkan, tak jarang Ibu pulang dengan wajah muram ketika aku sedang di rumah.
Aku tak tega melihat Ibu sedih. Jadi, ketika dagangan Ibu dibawa ke rumah, aku santap makanan tersebut dengan wajah gembira sambal berkata, "Ih, Bu. Makanan bikinan Ibu paling enak, deh. Merah jadi pengen makan terus sampai habis." Ibu pun tersenyum ketika aku sudah membuka senjata tumpul yang bisa bicara sambil mengunyah amunisi. Aku jadi sadar akan sesuatu.
"Bisa, dong! Mau tau gak kenapa gue bisa makan banyak?" tanyaku menggoda Kuning. "Emangnya kenapa?" Kuning balik bertanya padaku.
"Karena cinta." Jawabku sambil membayangkan wajah Ibuku. Kuning pun jadi bingung.
Komentar